Jatah Kastisme dan Melodrama dalam Kharisma Bachchan.....
Konflik datang tak kunjung henti dalam Aarakhsan, drama Bollywood yang menyoroti masalah gap pendidikan di India akibat sistem kasta. Berjejal masalah yang bertumpuk-tumpuk selama hampir tiga jam, menonton Aarakhsan serasa menonton sinetron Cinta Fitri 1 dan 2 sekaligus. Overlong and overly dramatized.
Supaya ulasan ini tidak sebertele-tele filmnya, aku akan meringkasnya dengan super duper singkat. Prabhakar Anand adalah rektor sebuah perguruan tinggi negeri terfavorit di India (seperti UI gitu). Difitnah oleh wakil rektor jahat dengan alasan mendukung program reservasi pendidikan untuk kasta rendah, Prabhakar mengundurkan diri. Keluar dari tempat tinggalnya di lingkungan universitas, Prabhakar kembali ke rumah lamanya dan mendapati bahwa rumahnya telah dirombak dengan siasat licik menjadi pusat bimbingan belajar milik wakil rektor. Terbuang dan tercaci maki di masyarakat, Prabhakar memutuskan untuk membalas dendam dengan menggunakan kemampuannya yang terbesar, yaitu mengajar.
Tema yang diangkat Aarakshan sangatlah menarik. Merujuk pada kastisme yang melekat pada kehidupan sosial India, Aarakshan memperkenalkan kita mengenai kontroversi konsep jatah pada sistem pendidikan India. Intinya, sekian persen dari mahasiswa baru yang diterima harus dari kasta A, sekian persen dari B, dan sebagainya. Dengan dominasi pendidikan dicondongkan ke kasta yang tinggi, maka orang-orang dari kasta rendah menjadi minim pendidikan. Tema serius menyangkut sosial politik ini dihadirkan secara semrawut di bagian pertama film sebelum intermission.
Dibumbui dengan adegan demo yang tidak berkesan dan balutan lagu yang sekedarnya, bagian pertama Aarakshan sebenarnya memikat dengan percakapan-percakapan serius dan esensi yang berat. Karena susunan penceritaan dan editing yang ruwet, penonton menjadi lelah dan film terasa amat panjang. Teman menontonku saja terpasung dengan mata lima watt.
Setelah intermission, Aarakhsan berganti haluan menjadi cerita drama sinetron. Tokoh Prabhakar menjadi terlunta-lunta di bawah tindasan tokoh-tokoh antagonis. Satu masalah muncul setelah masalah yang lain dan semakin lama semakin susah terselesaikan. Film yang bagian pertamanya panjang ini menjadi semakin terulur panjang. Karena arah penceritaan yang berubah, menonton Aarakshan serasa menonton 2 film dengan 2 cerita berbeda. Yang satu adalah bagaimana masalah reservasi kasta di universitas dan yang lain adalah bagaimana Prabhakar merebut kembali rumahnya.
Aarakshan adalah sebuah melodrama. Karakter-karakter film dilebih-lebihkan tingkat positif dan negatifnya demi memunculkan emosi yang kentara. Ini membuat Aarakhsan serupa dengan film-film Hollywood era 40-an. Namun berbeda dengan melodrama favoritku It’s A Wonderful Life (1946), Aarakshan tidak bisa memunculkan emosi yang meluap-luap. Bisa jadi ini karena melodrama sudah tidak model lagi namun lebih diutamakan karena menonton Aarakshan sangatlah melelahkan. Tokoh penjahat yang berlebihan dan super ala James Bond’s villain terlihat tidak masuk akal. Begitu pula kisah Prabhakar yang terlunta-lunta tidak bisa mencucurkan air mata layaknya kematian Jack Dawson di Titanic (1997). Merujuk pada Bollywood, Aarakhsan terlihat sangat medioker dibandingkan Kabhi Khushi Kabhie Gam (2001), yang juga dibintangi oleh Amitabh Bachchan.
Aktor legendaris India Amitabh Bachchan-lah yang mendongkrak kesuksesan Aarakshan. Seluruh dunia diperkenalkan dengan aktor luar biasa ini lewat film pemenang Oscar Slumdog Millionaire (2008). Hanya karena namanya-lah orang-orang menonton film ini, Memang aktingnya sebagai Prabhakar sangatlah prima. Terasa ‘njeglek’ bila dibandingkan lawan mainnya Saif Ali Khan sebagai murid terfavoritnya. Bachchan mampu menghidupkan karakter Prabhakar secara bagus sehingga kelemahan cerita menjadi tetap bisa disimak.
Bila kita merujuk ke sinema Indonesia, Aarakshan masuk ke kategori film komersil ala sinetron seperti Virgin (2004) atau Ketika Cinta Bertasbih (2009). Teman kuliahku dari India pernah mengejekku karena aku berkata bahwa aku menggemari Kuch Kuch Hota Hai (1998). Baginya, film tersebut tak ubahnya sinetron bagi dia. Itulah sifat dasar semua orang yang selalu menganggap karya asing lebih baik dari negeri sendiri. Publik Indonesia menghujat film-film pocong namun menonton film-film horror Amerika kelas dua di Blitzmegaplex yang kualitasnya sama. Uniknya lagi tiket film impor lebih mahal daripada film Indonesia. Padahal bila sama-sama jeleknya, bukankah mendukung film lokal lebih baik daripada membuang uang untuk film impor.
Aarakshan adalah produk mega budget yang digarap tidak maksimal. Seperti Singham (2011), nasib Aarakshan hanya diputar di satu teater di Plaza Senayan. Karena minggu ini bioskop dibanjiri produk-produk lokal, pasti ada beberapa orang yang lebih menonton Aarakshan dibandingkan film Indonesia. Sangat disayangkan karena kepuasan menonton Kejarlah Jodoh Kau Kutangkap (2011) jauh lebih berkesan dan memuaskan daripada Aarakshan. Bila anda adalah penggemar Amitabh Bachchan, tidak ada salahnya film ini ditonton karena tema sosialnya yang kontroversial. Namun sebagai rakyat Indonesia kebanyakan, skip saja film ini dan tarik pantat anda ke teater lain. Bila semua film Hollywood sudah ditonton, masuklah ke teater yang memutar film-film Indonesia. Dijamin lebih menguntungkan dibanding Aarakshan.
No comments:
Post a Comment