Tai Kucing dan Kawah Bromo dalam Persema Malang.....
Jika anda bukan penggemar sepakbola seperti saya, barangkali bayangan bermain sepakbola melawan kuda dalam panorama kawah pasir yang berkabut bisa menjadi alasan untuk menonton Tendangan dari Langit. Menghadirkan pesona Jawa Timur berikut aksen khas dan umpatannya, Tendangan dari Langit adalah hiburan berkelas untuk seluruh keluarga.
Tendangan dari Langit menuturkan kisah Wahyu, seorang anak 16 tahun yang memiliki bakat bermain sepakbola. Bagi pemuda yang tinggal di desa Langitan di kaki gunung Bromo ini, menjadi pemain sepak bola di klub Persema Malang adalah impiannya. Dengan ayah yang melarangnya bermain sepakbola dan dilema cinta dengan teman sekolahnya, Wahyu putus sambung dalam bermain sepakbola. Ketika suatu hari pelatih Persema Malang melihatnya berlatih melawan kuda, Wahyu mendapatkan kesempatan untuk try-out di Persema. Dengan bakat spesialnya, Wahyu menjadi kandidat utama bermain bersama idolanya, si Irfan Bachdim. Sayangnya pemeriksaan rontgen menunjukkan bahwa Wahyu mengalami cedera di lutut. Wahyu harus pulang dengan kegagalan yang menyedihkan. Berbekal semangat never give up, Wahyu dibantu sahabat-sahabatnya untuk terus mengejar impiannya hingga akhirnya dia berhasil bermain di lapangan hijau bersama Persema Malang.
Digarap dari ide pelatih Persema, Timo Scheunemann, yang juga tampil sebagai dirinya sendiri, Tendangan dari Langit menjadi film menarik di bawah garapan Hanung Bramantyo. Setelah hingar bingar prestasi sepakbola Indonesia berikut kisruh di tubuh pengurus PSSI, Tendangan dari Langit muncul sebagai film inspiratif bagi anak-anak muda.
Sebagai pendatang debutan yang terpilih dari casting di Malang, Yosie Kristianto bisa mewujudkan tokoh utama Wahyu dengan cukup baik. Hanya saja karena kadar aktingnya yang kurang tergali, kemunculannya sebagai pemeran utama selalu tenggelam oleh aktor-aktor yang lebih senior, terutama oleh Sudjiwo Tedjo yang berakting sangat luar biasa. Bantuan dari aktor-aktor senior seperti Yati Surachman dan Agus Kuncoro, bisa menutupi kekurangan akting Wahyu dan menjadikan Tendangan dari Langit tertutur secara lepas.
Sekali lagi pujian utama kuberikan pada Sudjiwo Tedjo, yang mampu begitu realistis menghidupkan sosok ayah Wahyu. Bertutur dalam bahasa Jawa dengan ekspresif, tokoh ayah Wahyu memperkenalkan umpatan-umpatan alias misuh ala Jawa. Bertaburannya dialog asu, jancuk, dan tai dalam Tendangan dari Langit bisa terpadu dalam beberapa adegan berbeda. Ayah Wahyu berucap asu dalam kemarahan ketika Wahyu bermain sepakbola dan mengolah asu menjadi berbeda ketika dilontarkan saat pengutaraan cinta Wahyu terhadap cewek teman sekolahnya. Benar-benar menarik. Seperti diutarakan dalam film,“ Menurut almarhum Gombloh, kalo cinta melekat, tai kucing terasa coklat.” Dalam Tendangan dari Langit, semua pisuhan kotor yang terlontar menjadi coklat yang menarik untuk disaksikan.
Tendangan dari Langit memanfaatkan keindahan kawah Bromo yang fenomenal untuk memunculkan gambar-gambar yang memukau. Seperti halnya dalam Pasir Berbisik (2001), terdapat aura tersendiri yang muncul lewat balutan padang pasir. Di daerah yang tinggi ini, metaforikal kata tendangan dari langit menjadi pas terlebih karena desa yang dipakai adalah desa Langitan.
Beberapa tokoh dalam Tendangan dari Langit merepresentasikan diri mereka sendiri. Contohnya adalah pemain sepakbola selebriti Indonesia, Irfan Bachdim. Walaupun diperkenalkan dalam posternya sebagai penampilan perdananya, tidak banyak dialog dan aksi yang dilakukan Irfan Bachdim. Dia hanya melakukan apa yang paling bisa dia lakukan, yaitu bermain sepakbola. Dampaknya kehadiran Irfan memberikan sentuhan realistis di film sekaligus menunjukkan akting yang wajar.
Para suporter sepakbola dari Jawa Timur memang terkenal akan loyalitas dan rasa bangga terhadap klub sepakbolanya. Tendangan dari Langit memunculkan filosofi persatuan antar klub lewat adegan percakapan antar pendukung Arema dan Persema yang saling rukun membantu Wahyu. Menonton film ini bisa menimbulkan semangat bahwa sepakbola itu bisa menjadi impian yang terjamin, walaupun mungkin kenyataannya bisa lain. Tokoh Sudjiwo Tedjo berkali-kali bertutur bahwa Indonesia lebih bisa menghasilkan maling daripada pemain sepakbola. Film ini menjadi satir halus untuk menyentuh masalah social bidang persepakbolaan Indonesia.
Tidak luput dari formula daya tarik sebuah film, Tendangan dari Langit membumbui kisah cinta antara Wahyu dan teman sekelasnya, Indah. Dibantu dengan ketiga sahabatnya yang konyol, humor ditampilkan pula disana sini. Tokoh teman Bayu yang diperankan Joshua Suherman menjadi salah satu yang dominan dengan frase “sungguh”-nya. Dengan balutan tokoh yang hidup, tata musik dan sinematografi yang kuat, seting alam yang memukau, dan skenario yang menarik dengan paduan aksi, humor, dan roman, Tendangan dari Langit adalah hiburan yang komplit.
Berawal dari sebuah bola sepak butut dan berakhir di lapangan hijau bersama Irfan Bachdim, Tendangan dari Langit menunjukkan bahwa impian akan bisa diraih jika kita terus berusaha. Motivasi yang tidak terasa menggurui ini menjadikan Tendangan dari Langit salah satu film Indonesia yang bagus tahun ini. Bila anda adalah warga Jawa Timur, sangat disayangkan bila anda tidak menonton film ini karena celetukan ala Jowo akan sangat menghibur anda. Menonton film ini bersama seluruh keluarga saat liburan akan menjadi pengalaman tersendiri, walaupun anda mungkin harus menjelaskan mengapa jancuk dan asu bisa menjadi memikat. Don't say these at home, okay!
No comments:
Post a Comment