Racun dan Misteri Terbuka dalam Opera Kematian.....
Poster Requiem Pour Une Tueuse berupa wanita cantik memegang pistol di belakang punggung menyiratkan aksi dan laga. Namun menonton filmnya, tidak sekalipun tokoh cewek ini memegang pistol. Requiem Pour Une Tueuse adalah drama misteri yang jauh dari bombastis peluru berdesing karena sang cewek pembunuh bayaran adalah ahli racun meracun.
Lucrèce adalah pembunuh bayaran spesialis menggunakan racun. Hendak bertobat, Lucrèce menjalankan misi terakhirnya di sebuah kastil pegunungan Alpen Swiss. Menyamar menjadi penyanyi soprano, Lucrèce harus tampil di festival musik Erneux sembari berusaha menyingkirkan targetnya, seorang penyanyi bariton bernama Alexander Child. Alexander menjadi sasaran karena menolak menjual properti tanah yang menjadi pengganggu satu-satunya proyek besar jalur pipa kilang minyak. Tugas Lucrèce berjalan tidak mulus karena pemerintah Perancis mengirimkan seorang mantan agen bernama Rico untuk melindungi Alexander. Dengan tiada informasi mengenai Lucrèce, Rico meraba-raba mencari si pembunuh di antara segerombolan karakter lain yang mencurigakan. Diiringi alunan requiem dari Haendel, kematian demi kematian datang. Lucrèce bukanlah penyebabnya, bahkan nyaris menjadi korban. Rico mencoba memecahkan simpul misteri sementara intrik terus bergulir di bawah iringan suara tenor dan soprano.
Pola tutur sebuah thriller misteri terbagi menjadi dua, misteri tertutup dan misteri terbuka. Misteri tertutup yang biasa disebut dengan whodunit adalah tuturan yang dipakai oleh Basic Instinct (1992), Seven (1995), dan Saw (2004). Mempertontonkan kegiatan Lucrèce ketika membunuh targetnya dengan hosti beracun di sebuah gereja pada prolog film menunjukkan bahwa Requiem Pour Une Tueuse adalah sebuah film misteri terbuka. Kita telah tahu siapa pembunuhnya dan kita akan melihat halangan-halangan dalam usahanya menyukseskan misinya. Dengan beragam karakter yang eksentrik, Requiem Pour Une Tueuse berupaya memelintir intrik pembunuhan misteri terbuka ini, Sayangnya tuturan ceritanya tidak menarik dan suspens misteri tidak terbangun.
Usaha penggunaan racun untuk membunuh tidak dipertontonkan secara brilian seperti pada prolog hosti beracun. Di kastil indah pegunungan Alpen, Lucrèce hanya berusaha membekam korbannya dengan racun ketika tidur atau menuang racun ke anggur saat toast bersama. Keduanya adalah aksi yang kurang kreatif dan bahkan dieksekusi dengan terlihat tidak meyakinkan. Selalu ada mata-mata yang mengawasi tanpa Lucrèce menyadarinya. Penggagalan aksi-aksi Lucrèce juga dikarenakan hal-hal sepele yang terlalu mudah untuk sebuah film misteri. Disuguhkannya karakter-karakter lain yang turut serta menjadi objek kecurigaan juga tidak banyak membantu. Intrik misteri tidak dihadirkan secara memikat tetapi jatuh ke polesan drama yang datar.
Memanfaatkan keindahan seting kastil Swiss, seharusnya Requiem Pour Une Tueuse lebih bisa menghadirkan gambar-gambar dengan perspektif yang lebih baik. Penggunaan film 35 mm tidak banyak membantu penciptaan suasana film dan cenderung menyerupai film digital saja. Untung saja gubahan musik dalam Requiem Pour Une Tueuse bisa memberikan hiburannya.
Requiem Pour Une Tueuse menghadirkan nyanyian requiem opera untuk mengiringi berbagai pembunuhan. Requiem adalah komposisi musikal yang dinyanyikan untuk kekekalan jiwa-jiwa orang yang telah meninggal. Berbenturan dengan kematian dan kesedihan, penggunaan unsur requiem dalam film yang paling berkesan bagiku adalah pada Requiem for A Dream (2000). Tidak menampilkan requiem dalam bentuk aslinya, Requiem for A Dream (2000) mengkomposisikan visual menjadi sebuah requiem. Pada Requiem Pour Une Tueuse, requiem dihadirkan secara harafiah dalam lagu opera Messiah ciptaan Händel. Balutan suara tenor dan soprano yang indah menjadi daya tarik pada Requiem Pour Une Tueuse. Dengan jalan cerita yang tidak berkembang, requiem menjadi unsur pemanis saja bagi film ini.
Dibintangi oleh Melanie Laurent yang tampil mengesankan di Inglorious Basterds (2008), akting aktor-aktor Requiem Pour Une Tueuse terasa biasa saja. Muncul dengan wig pirang yang mencolok mata, Melanie membawakan karakter Lucrèce ala film noir Hollywood, akan tetapi bagiku kurang begitu berkesan. Bila dulu aku menyukai akting Clovis Cornillac dalam Le Nouveau Protocol (2008) dan Faubourg 36 (2008), maka disini penampilannya sangat standar. Emosi kurang terbawa dan suspens tidak muncul.
Hanya sedikit film Perancis yang diputar di Blitz di luar festival film Perancis dan yang kutonton kebanyakan mengecewakan. Tahun lalu aku berhadapan dengan Lucky Luke (2009) yang monoton dan sangat buruk dan sekarang Requiem Pour Une Tueuse. Untung saja Requiem Pour Une Tueuse masih lebih baik ketimbang Lucky Luke (2009). Seharusnya Blitzmegaplex memilih film-film seperti Des Hommes et Des Dieux / Of Gods and Men (2010) atau Mammuth (2010). Namun dengan iringan lagu klasik opera requiem dan bahasa Perancis, setidaknya Requiem Pour Une Tueuse memberikan tontonan yang berbeda dari hamparan film box office Amerika dan film-film Indonesia.
Bila anda mencari cewek jagoan dalam ajang baku tembak spektakuler, tunggulah Colombiana (2011) yang akan tayang sebentar lagi. Requiem Pour Une Tueuse bisa menjadi pilihan apabila anda menggemari lagu-lagu klasik opera dengan suara soprano yang mendayu-dayu. Selebihnya, Requiem Pour Une Tueuse adalah kisah misteri melempem yang cukup dinikmati di tayangan gratis TV5Monde.
AGAS STAR RATING : 5 out of 10
No comments:
Post a Comment