Klik poster film berikut untuk menuju langsung ke review-nya!

2.8.11

Poetry / Lee Chang-Dong / 2010 (9✰)


Libido dan Keindahan dalam Untaian Kata.....

Saat hasrat menonton film menurun akibat pelarangan impor film-film keluaran MPA di bioskop, film ini adalah film pertama yang kutonton setelah absen puasa film selama satu bulan lebih; itupun hanya di layar komputer, yang untungnya cukup besar sehingga bisa terpuaskan.  Namun efek film ini bagaikan Viagra ke urat-urat nadiku yang begitu mencintai film, sehingga Poetry mampu memunculkan ide untuk menelurkan blog ini dan tentunya sebagai film pertama yang aku review.

Poetry merupakan potret karakter seorang nenek bernama Mija dalam kondisi awal penyakit Alzheimer yang hidup berdua dengan cucu lelakinya. Masalah timbul ketika sang cucu bersama gengnya bergilir memperkosa teman sekolah mereka dan membuat si korban bunuh diri. Dalam usahanya melawan gejala Alzheimer dan mencari uang untuk menutup mulut ibu si korban agar tidak melapor ke polisi, Mija menemukan pengharapan lewat sebuah kelas puisi. Bagi Mija, kini tantangan terbesar untuknya adalah menulis sebuah puisi. Lewat puisi inilah, topik keras yang disodorkan film ini bisa tergambar dalam kelembutan dan keindahan.

Poetry sangat kuat dari segi cerita dan karakterisasi.  Poetry meraih penghargaan skenario terbaik di Cannes Film Festival tahun kemarin. Penggambaran karakter Mija sebagai wanita sederhana yang bersahaja di tengah dunia yang korup sangat bertentangan dengan karya-karya awal Lee Chang-Dong yang sarat maskulinitas, namun justru inilah yang membuat Poetry bersinar. Poetry begitu sederhana. Melihat karakter Mija, saya membayangkan nenek-nenek penjual buah di kotaku. Mereka sehari-hari berkeliling kota menjajakan jeruk dan melon untuk biaya sekolah cucu mereka di kota besar; karakter wanita desa yang memegang teguh prinsip hidup dalam kesederhanaan demi anak mereka yang entah sedang apa dengan uang yang neneknya peroleh dengan susah payah. Perbenturan karakter sederhana dengan topik kuat pemerkosaan anak SMA membuat jalinan kisah Poetry menjadi kokoh.

Satu tahun yang lalu beredar video porno Ariel dan Luna Maya yang kemudian memicu puluhan kasus perkosaan antar anak SMA yang libidonya terangkat akibat menontonnya. Produser film Indonesia melihat kasus ini dan membuat film-film video seks seperti Skandal (2011) ataupun Pocong Mandi Goyang Pinggul (2011). Tidak sedemikian halnya dengan  Lee Chang-Dong. Inspirasi awal film dari sebuah artikel pemerkosaan, justru membuat inovasi untuk menyentuhnya dengan puisi. Sesuai perkataan karakter guru puisi dalam Poetry, puisi adalah bentuk seni yang sekarat. Menurutku, anak muda zaman sekarang lebih baik belajar menulis puisi, walaupun bertema cabul dan erotika, daripada menonton reality porn di Blackberry ataupun warnet-warnet. Di Indonesia, salah satu film yang mampu menaikkan hasrat berpuisi adalah Ada Apa dengan Cinta (2002). Namun bila AADC menggambarkan puisi lewat romantika remaja, Poetry menggambarkannya lewat cerita yang realis dan tetap memunculkan sisi-sisi art lewat aestetik visual digitalnya.

Tidak bisa dipungkiri bahwa Poetry adalah film yang kelam. Pengambilan sinematografi yang sederhana lewat frame-frame diam dan cenderung panjang justru menguatkan sisi kelam topik film yang “disturbing”. Akting prima dari Yun Jeong-hie mampu membuat kita bertanya-tanya kapankah emosi puitis lewat obsesinya terhadap bunga akan hilang dan digantikan oleh penyakit Alzheimer? Memiliki nenek yang terjangkit Alzheimer, aku bisa merasakan betapa kuatnya simbol-simbol yang dihadirkan oleh film ini.  Selagi kita masih muda, kita harus bisa melihat keindahan hidup dari berbagai benda dan alam di sekitar kita. Seperti yang ditanyakan dalam Poetry, apakah kita pernah melihat sebuah apel? Kita mungkin pernah melihat apel tetapi apakah kita “benar-benar” pernah melihat seperti apakah apel itu? Coba beli dan perhatikanlah sebuah apel, mungkin anda akan menemukan keindahan di dalamnya.

Beberapa karakter dalam Poetry melakukan monolog mengenai kenangan indah dalam hidup mereka. Salah satu yang paling berkesan bagiku adalah seseorang yang hidup 20 tahun di basement dan kemudian menyewa sebuah apartemen kecil.  Saat itu, dia terbaring di apartemennya dan merasa memiliki dunia. Bila kita menggali kenangan hidup kita yang terindah, kenangan itu akan menguatkan pikiran kita dan membawa kita ke arah yang lebih baik.  Poetry dimulai dari mayat seorang gadis SMA yang bunuh diri namun bisa membawa kita ke pahit manis kehidupan nyata. Di saat rintangan terbesar muncul di hidup kita, mungkin yang terbaik adalah mencari keindahan lewat kehidupan sekitar kita. Dengan begitu anda bisa berteriak kepada masalah anda:
    "Lahan subur tumbuh dari lava merah. 
     Tujuh warna hidup dari terpaan badai.
     Pergi, dan datanglah kembali. 
     Karena aku merindukanmu.”

AGAS STAR RATING : 9 out of 10

No comments:

Post a Comment