Daya Tarik Massal dan Kematian dalam Harry Potter.....
Larangan impor film oleh MPA telah berakhir dan film Harry Potter and the Deathly Hallows Part 2 menjadi film pertama setelah sekian bulan yang membuat adanya advance ticket sales di jaringan bioskop 21. Pertama kalinya setelah puasa film, bioskop-bioskop di Jakarta membludak penonton.
Film-film Harry Potter saga memang tidak bisa dipungkiri sihir magnetnya sebagai mass attraction dan memecahkan banyak rekor pendapatan film di seluruh dunia. Masuk ke Indonesia berbarengan dengan Transformers Dark of the Moon (2011), Kungfu Panda (2011), dan Fast Five (2011), pihak importir menyodorkan Harry Potter sebagai gebrakan pertama. Tentu saja, langkah gebrakan yang tepat.
Film-film Harry Potter saga memang tidak bisa dipungkiri sihir magnetnya sebagai mass attraction dan memecahkan banyak rekor pendapatan film di seluruh dunia. Masuk ke Indonesia berbarengan dengan Transformers Dark of the Moon (2011), Kungfu Panda (2011), dan Fast Five (2011), pihak importir menyodorkan Harry Potter sebagai gebrakan pertama. Tentu saja, langkah gebrakan yang tepat.
Harry Potter and the Deathly Hallows Part 2 menceritakan aksi terakhir dari Harry Potter dalam melawan Lord Voldemort. Dalam usahanya menghancurkan horcrux sang penguasa kegelapan, Harry Potter akan menyingkap kisah masa lalu Severus Snape dan mengungkapkan semua misteri yang menyelubungi dirinya. Kisah yang terpapar dari 7 film pendahulunya mencapai puncak dalam pertempuran di Hogwards oleh seluruh karakternya dan mencapai titik kulminasinya lewat duel kematian Harry Potter dan Lord Voldemort.
Harry Potter memang daya tarik massal yang kuat. Secara tidak langsung aku tumbuh dan berkembang bersama Harry Potter. Menyaksikan Harry Potter and the Philosopher’s Stone (2001) bersama teman-teman kuliah hingga Harry Potter and the Order of the Phoenix (2007) di negeri sebrang, dan sekarang Harry Potter and the Deathly Hallows Part 2 (2011) bersama dengan serombongan 13 orang, film-film Harry Potter berhasil menemani moviegoers selama 10 tahun. Lantas, apakah film yang membuatku menonton bersama satu regu sepak bola ini bisa menjadi film penutup Harry Potter yang memuaskan?
Memiliki beberapa adegan yang dipenuhi spesial efek fantastis dan aksi pertarungan yang brutal, Harry Potter and the Deadly Hallows Part 2 tetap menjadi belaian mata peminat CGI. Menurut salah satu rekan yang menonton bersama saya, adegannya tidak sespektakuler dan seseru film-film pendahulunya karena di film ini banyak sekali dialog dan drama. Namun bagi saya, itulah yang membuat film ini lebih bersinar daripada film-film terdahulu. Harry Potter and the Deadly Hallows Part 2 memunculkan seluruh karakter pendukung di sekeliling Harry Potter. Film ini menggambarkan sisi heroik Neville Longbottom, sentuhan kasih Hermione dan Ron, masa lalu Severus Snape, sisi lain Draco, dan memunculkan semua tokohnya, termasuk Dumbledore yang sudah meninggal di seri sebelumnya. Dari semua hal tersebut, kisah masa lalu Snape adalah daya tarik utama bagiku di film ini. Dengan akting kuat Alan Rickman, film ini memberikan emosi yang lebih dari sekedar film sihir-sihiran.
Untuk film yang tentunya banyak ditonton anak-anak, Harry Potter and the Deadly Hallows Part 2 sebenarnya bertopik mengenai hal yang sangat suram, kematian. Berbagai karakter mengalami ajalnya dalam pertarungan Hogwards, bahkan termasuk Harry Potter sendiri. Berbeda dengan proyeksi dunia persimpangan antara hidup dan mati dalam The Lovely Bones (2009), dimensi lain dalam film ini digambarkan sebagai stasiun kereta yang putih bersih. Harry Potter muncul sebagai wujud yang bersih tak bercacat, seperti disimbolisasikan lewat kacamata yang ditanggalkan. Dengan cara ini, bahkan anak-anakpun dapat menerima konsep kematian bagaikan dunia imajinasi tanpa batas.
Sebelumnya, aku merencanakan menonton film ini di bioskop 3D. Namun menilik fakta bahwa kacamata 3D memberikan sedikit penurunan resepsi cahaya dan kebanyakan adegan di film ini dilakukan waktu malam, maka aku menontonnya di versi 2D. Film ini bukanlah film yang dibuat khusus untuk format 3D. Karena tidak sempat mengkonversi Part 1 ke dalam 3D, pihak Warner Bros tetap melempar Harry Potter and the Deadly Hallows Part 1 (2010) dalam format aslinya. Bila anda masih bingung memutuskan untuk menonton Harry Potter and the Deadly Hallows Part 2 dalam format 2D atau 3D, maka saya menyarankan untuk menontonnya di versi 2D saja. Simpan uang tiket 3D yang mahal untuk Transformers Dark of the Moon (2011) yang akan tayang minggu ini.
Harry Potter and the Deadly Hallows Part 2 dihiasi art direction yang sangat detil dan indah. Rekan menonton yang lain bahkan mengumbar pujian mengenai keindahan setting dalam dunia Harry Potter and the Deadly Hallows Part 2. Menggunakan sistem pencahayaan dengan dimming yang canggih dan versatile, sang sinematografer mampu memunculkan gaya yang sesuai dengan kekelaman topiknya. Aku sangat terkejut betapa dekatnya sentuhan sinematografi film ini dengan realita karena dalam salah satu adegan, image yang terpampang sangatlah tajam. Sungguh kejutan yang memuaskan.
Walaupun filmnya telah berakhir, Harry Potter akan terus dikenang sepanjang zaman sebagai tokoh penyihir yang paling dikenal. Saya sendiri masih berkeinginan untuk mengunjungi The Wizarding World of Harry Potter di Universal Studios Orlando. Semoga saja pihak Universal Studio di Singapura mengadopsinya sebagai wahana sehingga saya tidak perlu jauh-jauh menikmatinya. Entah anda adalah Harry Potter fans atau sekedar regular moviegoers, coba tonton ulang keseluruhan 7 film Harry Potter dalam minggu ini dan bergegaslah ke bioskop untuk menyaksikan ajang finalnya. Bila anda belum pernah melihat satupun film Harry Potter, maka kinilah saat terakhir anda untuk bisa menyaksikan Harry Potter di layar perak. Peredaran di Indonesia mungkin telah terlambat dua minggu dan anda sudah menontonnya di DVD bajakan yang berkualitas rendah, namun Harry Potter and the Deathly Hallows Part 2 tetap menjadi film wajib tonton di bioskop. Tunggu apa lagi, go now!
No comments:
Post a Comment