Klik poster film berikut untuk menuju langsung ke review-nya!

2.8.11

Wu Xia / Peter Ho-Sun Chan / 2011 (8✰)


Detektif dan Masa Lalu dalam KungFu.....

Menurut wikipedia, Wu Xia adalah salah satu genre fiksi Cina yang menyangkut petualangan seorang pendekar silat. Karena sangat popular, Wu Xia berkembang dari literatur ke berbagai bentuk seni lainnya; termasuk yang disebut Ricciotto Canudo sebagai “the seventh art”,  yaitu film. Merujuk ke genre-nya sebagai judul, Wu Xia berhasil memperkenalkan literatur Cina ke wujud yang berbeda.

Wu Xia menceritakan kisah mantan seorang pembunuh yang memulai hidup baru sebagai pembuat kertas di sebuah desa kecil. Pada suatu hari, dia terlibat perkelahian dengan dua orang penjahat dan dia menyelamatkan desa dengan membunuh kedua penjahat tersebut. Ulah heroik ini menimbulkan obsesi bagi dua orang karakter: seorang detektif berusaha menguak jati dirinya agar bisa mengadilinya dan ayah kandung sekaligus masternya berusaha memburu dia untuk membunuh sang anak yang telah durhaka.

Pemikiran spontan yang timbul pada saat menonton Wu Xia adalah betapa Wu Xia mengingatkanku akan serial televisi CSI. Tokoh Xu Bai-Ju yang diperankan oleh Takeshi Kaneshiro adalah detektif forensik dari masa Cina kuno yang menelusuri segala-galanya dari sudut pandang ilmiah (yang pada masa itu adalah seni susunan saraf akupuntur dan jejak-jejak sisa perkelahian). Pendekatan tidak biasa pada karakter detektif Cina seperti ini sudah dikenalkan lewat Detective Dee and the Mystery of The Phantom Flame (2010), akan tetapi Wu Xia membawanya ke level yang lebih tinggi dan berhasil memadukan sains dan kungfu dalam takaran yang menyenangkan. Wu Xia adalah film silat yang unik dan memberi dimensi baru dalam perfilman HongKong.

Aksi laga spektakuler yang dipertontonkan dalam Wu Xia semuanya dikoreografi oleh Donnie Yen sendiri. Namun tidak hanya menonjolkan baku hantam yang lincah, Wu Xia memberikan Donnie Yen sebuah karakter yang hidup dan dipenuhi emosi. Karakter ini bagaikan sebuah misteri dalam film yang harus dipecahkan oleh si detektif. Sepanjang film kita akan bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi dan ini adalah indikasi sebuah film misteri yang bagus. Aku sangat menggemari cerita literatur detektif semenjak kecil. Banyak di antaranya telah merambah layar lebar, seperti Hercules Poirot di Murder on the Orient Express (1974) dan baru-baru ini sang detektif legendaris pada film dengan judul yang sama dengan namanya, Sherlock Holmes (2009). Tahun ini Wu Xia muncul sebagai film silat yang unik sekaligus film detektif yang berkualitas. Semoga ini bisa menjadi trend dan berbuah ke film-film sejenis lainnya.

Beberapa kritikus Amerika membanding-bandingkan Wu Xia dengan Crouching Tiger Hidden Dragon (2000) karena Wu Xia memiliki aspek sinematografi yang memukau. Jalinan warna dan cahaya bagaikan lukisan kanvas Jackson Pollock menghidupkan Wu Xia sebagai literatur bergerak dalam gradasi warna-warna kertas Cina kuno. Uniknya, Wu Xia dipadukan dengan musik original yang berdasar pada hard rock style yang sangat ekspresif dan energetik. Ditambah pemandangan alam pegunungan Cina yang memukau, keseluruhan elemen memberikan komposisi yang spesial bagi Wu Xia, yang didedikasikan kepada masa-masa keemasan film silat HongKong. Ini mengingatkanku akan masa kecilku yang dipenuhi dengan kaset-kaset video silat kesukaan ayahku. Bagi dia, film silat HongKong adalah film yang luar biasa. Kini, generasi telah berganti, dan bagiku Wu Xia adalah regenerasi keluarbiasaan yang pas.

Masa lalu yang kelam berusaha dikuburkan di Wu Xia. Aku sendiri mengenal seseorang yang juga berusaha menguburkan masa lalunya dengan berganti nama. Namun apakah sedemikian mudahnya masa lalu itu hilang dan lenyap selama-lamanya? Seperti halnya di Wu Xia, masa lalu yang kelam seharusnya tidak dibuang melainkan dihadapi dengan perspektif baru. Beberapa minggu yang lalu, ada rekanku yang curhat tentang sebuah kisah nyata bagaikan sinetron. Temannya telah dikhianati oleh suaminya yang berpaling ke perempuan lain. Namun ketika sang suami kehabisan uang dan meminta kembali rujuk, dia memaafkan karena rasa cintanya yang teramat sangat. Kini kejadian itu kembali berulang. Akibat rasa cintanya yang masih kuat, dia hanyut dalam dilema untuk kembali memaafkan atau meninggalkan sang suami. Ada yang menyarankan untuk meninggalkan, sedangkan aku sendiri berpendapat dia harus memaafkan dan kembali bersamanya hingga pada saatnya dia bisa melepaskan cintanya dan pergi sebagai wanita bebas. Bagiku, si suami adalah bentuk proyeksi masa lalu. Jika si istri meninggalkan dia, dia bagaikan tokoh Donnie Yen dalam Wu Xia. Sang istri tidak akan pernah tenang sebelum masa lalunya telah dihadapi. Bila nanti sang suami hadir kembali, masalahnya akan semakin runyam. Masa lalu sebaiknya jangan dihindari, hadapi dengan hati.

Selama sekitar dua jam, Wu Xia memberikan tontonan yang fresh dengan aksi laga yang inovatif. Perpaduan visual dan efek suara yang kontemporer menjadikan film ini sebagai salah satu film yang harus anda tonton tahun ini. Bila anda telah melewatkannya di bioskop, biarlah film ini menjadi masa lalu yang senantiasa bisa anda hadapi di layar kaca datar televisi anda.

AGAS STAR RATING : 8 out of 10


1 comment:

  1. Setelah baca review nya jadi [engen nonton nih... Tapi gw dan bini sekarang ga bisa nonton ke bioskop krn ada si kecil. Mo nonton Harpot dan Transformer 3 juga ga bisa :(

    ReplyDelete